ada temen yang cerita kalo istrinya bilang, "pns adalah impian semua orang, kecuali suami saya".
sekaligus disana saya tertawa, karena saya juga menolak saran orangtua untuk menjadi pns.
untungnya saya punya istri yang satu paham, dimana sama pns bukanlah menjadi impian.
dalam satu sisi saya merasa sedih karena diluar sana banyak yang justru nasibnya lebih buruk dari saya.
walau dalam sisi lain, ya keadaan merantau, tempat tinggal kos, dan kebutuhan anak istri yang press tiap akhir bulan.
memang bersyukurnya masih bisa bertahan sampai saat ini. tapi apakah perlu untuk berbicara realistis?
saya ketemu orang baru yang ngajak kerja, walau belum ada kabar sampai saat ini dan pekerjaanya seperti apa.
dalam satu malam pertemuan untuk pembahasan pertama, ada banyak yang dibahas bahkan bisa jadi mengubah pola pikir.
mungkin tidak akan saya bahas disini, karena ada banyak aspek, seperti bagaimana saya bekerja, apa yang saya dapat,
dan apa yang saya kerjakan. saya lupa niat awal saya, cuman saya jadi teringat salah satu guru saya bilang,
untuk dapat mencari batu loncatan, dua sampai tiga tahun itu sudah terlalu lama.