
Studi Banding Teknologi dari Dua Pesantren
Singkat cerita, saya di ajak tanpa di undang dalam kegiatan studi tiru dari pondok lama saya, saya hanya datang dan di undang secara personal saja dan langsung di pesantren assalafiah mlangi di jam 9 pagi.
Sesampainya di lokasi, didalamnya ada beberapa lora-lora, guru smk, bagian kepegawaian, bagian perencanaan yang tidak banyak saya kenal, untungnya saja tidak terlambat karena walau sudah duduk rapi dalam ruangan, ternyata masih mengunggu para pengurus untuk datang dan saling kenalan salam sapa.
Motivasi atau visi pertama pondok adalah membuat kerasan atau nyaman nya santri ketika di pesantren, ketika santri baru dibuatkan line khusus antrian ketika londry, ketika makan, dll yang berbeda dengan barisn para kakak kelas, begitu lah kata dari salah satu dewan pengasuh disana.
Yang dimana sampai akhirnya sistem informasi tersebut terbentuk tidak hanya cukup di gunakan saja, tapi menumbuhkan budaya atau ekosistem di dalamnya.
Bermula dari masalah-masalah umum santri, keuangan, pendidikan, perizinan, sampai dengan pelanggaran. Tantangan ini sering kali terjadi bahkan di pondok saya pribadi dalam proses pembangunan pedatren, sampai akhirnya merumuskan dasar sistem yaitu bank data.
Berbeda dengan pondok salafiyyah mlangi, dimana mungkin santrinya kalah banyak bahkan beliau bilang harusnya merekalah yang belajar dari pondok yang datang studi ini, berbeda karena tadi di kebiasaan yang sudah menjadi budaya dalam penggunaan sistem digital.
Berlandaskan oleh masa lampau yang dimana mereka masih belum memiliki unit lembaga, dimana para santri-santri ini perlu keluar untuk mendapatkan studi lanjutan bukan hanya mengaji, walau saat ini sudah memiliki banyak lembaga ternyata masalah tersebut sebakin banyak ucap belau.

Dalam penerapan IT di bidang kepesantrenan tidak lepas adalah lembaga SMK yang didalamnya ada penjurusan RPL, MM dan DKV, yang dimana dalam fokus belajarnya ada developer untuk pengembang aplikasi, sysadmin dalam pengelolaan jaringan, dan cyber security dalam keamanannya, dan lainnya akan saya sebutkan nanti.
Dalam penerapan kurikulum ini tidaklah penting lagi, dalam sekolah yang masuk dari jam 8 sampai keluar di jam 1, relatif mata pelajaran adalah produktif, dan di sertai beberapa mata belajaran umum seperti bahasa indonesia, bahasa inggris, dan lainnya yang mendukung dalam pembelajaran mutu produktif.
Walau memang dalam aturan pemerintah kurikulum merdeka ini acuan akan tetapi, para dewan pengasuh, para pengurus sepakat untuk menggunakan kurikulum tersebut dalam hal formal saja, berbeda dengan pencapaian lapangan untuk mencetak siswa siswi santri santri wati yang lebih baik.
Pemberdayaan lulusan aktif khususnya berperan penting dalam proses pematangan, memang di kelas 1 cukup bebas dalam pembelajaran materi, tapi difokuskan dalam 2 tahun pembelajaran, dan hal itu juga di dukung oleh para alumni yang mengajar disana.
Kemudian bagaimana pelakukan untuk materi-materi lain yang ada dalam kurikulum apakah hal tersebut menyalahi peraturan yang berlaku, hal tersebut hanya kebutuhan formal saja, dengan keadaan susahnya siswa yang harus mengikuti sistem ini tidak lah sesuai dengan output yang di harapkan,
Oleh karena itu dalam kesempatan tertentu oleh pihak pesantren mengadakan tour camp atau studi banding ke dalem kraton, sehingga beberapa materi bisa langsun dirangkum menjadi beberapa mata pelajaran contoh ips, sejarah, ppkn, dan sebagainya.
Maka akan didapatkan lah output dari lulusan tersebut untuk bebas memilih apakah melanjutkan untuk tetap belajar dan mengabdi dalam pesantren khususnya melalui unit usaha BUMT, ada banyak sekali seperti asa mart, asa laundy, asa travel, asa sound, asa building, asa green, dan lain-lain.
Atas bantuan sistem yang telah di kembangkan semua proses berjalan dengan transparan, mulai dari kehadiran, kemudian pendidikan yaitu materi yang di sampaikan dan di ujikan, keuangan pendapatan dan pengeluaran, bekal santri, biaya kesehatan, manajemen tiap-tiap unit usaha, proses pemantauan program kerja, dan masih banyak lagi.