Membahas tentang kesalahan orang yang tidak akan habis-habis
ada teman yang juga membahas dalam suatu cerita singkat pedagang,
ada dua pedagang yang menjual hal yang sama, kita sebut pedagang A dan pedagang B,
mereka sesama pedagang sayur, suatu saat pedagang A memiliki pembeli yang lebih ramai dari pedagang B,
sehingga pegadang B jadi merasa tersaingi dan menganggap karena pedagang A lah menjadikan dagang B sepi.
secara ego, hal tersebut adalah kesimpulan. akan tetapi secara logis ada banyak indikator yang menjadikan
satu sisi ramai dan satu sisi sepi yang tidak akan kita bahas di sini lebih banyak. kemudian secara agama
kadar rezeki sudah menjadi masing-masing, ramai atau tidaknya bukanlah arti dari rezeki.
kesimpulan, kebiasaan orang-orang sekarang adalah mencari keburukan, atau memang dari jaman jahiliah,
inilah yang perlu kita perangi sebagai orang yang berilmu dan beriman. kesalahan seseorang atau terfikir
atas salah seseorang adalah suatu salah diri, kita diwajibkan hanya untuk menghargai dan memperbaiki,
bukan untuk mencari kesalahan orang. sadar diri apakah sungguh hal tersebut salah orang atau justru
adalah salah sendiri. dari cerita diatas sikap yang seharusnya diperbaiki adalah menganggap pedagang A
salah dan berakibat pada pedagang B, yang seharusnya adalah karena pedagang A lebih ramai menjadikan
kesimpulan oleh pedagang B apakah kurang maksimalnya atau ada yang perlu di perbaiki dari diri pedagang B.