mungkin pilihan saya dari pada menikmati masa muda, ini karena masa muda saya udah tidak nikmat, sebelum menikah, dengan banyak nasehat orang2, untuk menikmati usia muda dahulu, sepertinya tidak relevan dengan nasehat tersebut, mengingat saya bersama orang2 tersebut, mungkin kalau saya lagi bersenang2 di tempat wisata, atau bersenang2 di kafe, akan lebih relevan ketimbang lagi pusing bekerja, dan dapat nasehat itu atau keluar kota beberapa minggu dan mendapat nasehat itu, sejak di pesantren kayaknya bahasa menikmati usia muda tidak relevan yang saya nikmati itu adalah masa belajar, lulus sekolah pun sudah duduk di meja kantor dan bukan menikmati usia muda, sampai akhirnya di perkuliahan yang hanya menjadi waktu paling relevan mengingat sebagian waktu di jam kuliah dan sisanya di jam kerja, di jam kuliahlah saya bertemu istri saya, dan lulus memutuskan untuk menikah, jadi untuk menentukan nasehat tersebut juga tentukan relevan nya, bukan dari orang ke saya, atau saya ke orang, begitu juga saya ke diri saya sendiri