disclaimer: baiknya pemikiran ini seharusnya di tanyakan kepada ustadz atau ahli agama
kapan kita bisa menentukan kita sabar menerima, sabar menghadapi, atau sabar menjalani
"kenapa cobaan berat ini jatuh ke saya bukan ke orang lain" atau "kamu masih mending, saya loh..."
setiap manusia pasti akan terfikir demikian secara relatif letak diri
walau kita telah menilai diri sudah penuh kesabaran, ada apa dengan kehidupan ini
apakah tuhan pengasih dan penyayang, atau telah bosan dengan diri kita
masih banyak nikmat dan hikmah yang di berikan, seandainya salah satu dari indra ini hilang
apakah masih tetap sabar, ada orang tuna netra atau tuna wisma di jalan apa kita mampu
dia lah yang maha mengetahui apakah akan membiarkan hal tersebut.
kesimpulan, tinggal kembali lagi ke masing-masing dalam memposisikan diri
sebagai makhluk yang bodoh dan khilaf kita hanya terbatas tidak tau tugas kita adalah menjalani
bukan menghakimi, justru dengan keluarnya pikiran saya telah sabar atau kurang sabar apa saya
itulah sombong diri dan sifat kufur.