dijalan kendaraan sudah mulai ramai, kebanyakan plat yang saya amati bukan berasal dari luar kota tapi justru plat lokal, mungkin sudah biasa untuk menunggu sampai bermenit-menit hanya untuk menyebrang dan pergi ke arah berlawanan, sebenarnya orang-orang ini pada mau kemana? masalah lain yang lama saya pikir adalah overtourism layaknya bali, mungkin tapi dengan asumsi plat kendaraan sepertinya kurang mendukung argumentasi tersebut, kemudian masalah lama mungkin sampah, dimana komentar dari salah satu warga asli tentang danais fokus pada wisata tapi lupa masalah warga, dari semua itu apa termasuk masalah infrastruktur, tata letak kantor dan rumah, menjadikan orang-orang menghabiskan umur di jalan, apakah jogja akan menjadi jakarta kedua? ada banyak komentar di media sosial, dalam satu hal memang menyalahkan infra tapi dalam hal lain juga menyalahkan sdm, dengan fasilitas yang memadai tapi sdm yang tidak menghormati juga tidak akan baik, apakah karena sistem? layaknya bis antar kota, akan sia-sia jika akan terdapat banyak kursi kosong, lebih baik di isi secara maksimal untuk efisiensi dan keuntungan, persamaannya dengan ramai di jalan kurang lebih adalah fasilitas jalan yang padat kendaraan akan lebih beresiko tinggi untuk lebih prioritas diperbaiki, atau mungkin penggunaan bahan bakar minyak seperti penjualan pertalite pertamax menjadi lebih tinggi? apakah kita masih dalam sistem kepentingan pribadi jadi tidak memperhitungkan kepentingan orang banyak tapi hanya lingkup yang lebih sedikit walau merugikan yang lain, sama seperti korupsi tapi untuk memberangkatkan haji keluarga